LEGENDA DESA MEJAGONG

Menurut cerita zaman dahulu,kota pemalang dikuasai oleh seseorang Bupati Tumenggung Bernama SURADILAGA.

Bupati tersebut mempunyai 5 orang pembantu yang bernama :

1. Mbah nur sigit (Mejagong)
2. Mbah lodra (Perbatasan Kecepit )
3. Mbah Pengapit (Kecepit )
4. Mbah Jongke (Kalimas )
5. Mbah Jebeng (Pegiringan )

Untuk memenuhi kebutuhan pengairan untuk pertanian maka di utuslah kelima pembantu itu untuk membuat saluran air yang terdapat didesa Mejagong yaitu di sungai comal, istilah dahulu membuat saluran ini menusuk sungai sehingga hasil tusukan ini sampai sekarang disebut KALI SUSUKAN.
Kelima utusan ini bekerja dengan sungguh-sungguh karena apa bila saluran ini tidak jadi akan di ancam dengan pemenggalan kepala oleh tumenggung SURADILAGA.

Untuk membuat saluran itu, diadakan pembagian tugas yaitu 3 orang Mbah nursigit, Mbah Lodra, Mbah Pengapit Mendapatkan Tugas untuk Menusuk di bagian atas yaitu di daerah Mejagong.Dan kedua Orang yaitu Mbah jongke,dan Mbah jebeng bekerja dibawah yaitu didaerah kalimas.
Konon kabarnya mbah nursigit sebelum bekerja membuat rumah dulu (DALEM) untuk melindungi slama ia bekerja. Di waktu siang beliau tidak bekerja hanya duduk-duduk sambil makan buah kesayangannya ialah buah manggis, dan mencari ikan yang dibuat gesek untuk dijadikan atap rumah.

Rumah tersebut sekarang petilasannya di dukuh manggis daleman, asal manggis dan dalem.
Pada waktu mbah nursigit sedang duduk-duduk disiamg hari datanglah utusan dari mbah jongke untuk melihat hasil pekerjaan mbah nursigit, karena dilihat mbah nursigit tidak bekerja maka utusan itu melaporkan kepada mbah jongke bahwa nursigit tidak patuh pada mbah suradilaga.Akhirnya dilaporkan oleh mbah jongke kepada Tumenggung Suradilaga.
Kemudian mbah nursigit merasa malu pada mbah suradilaga dan marah kepada mbah jongke atas laporannya.
Maka mbah nursigit bekerja keras setiap malamnya dengan keilmuannya(ilmu batin) sehingga berhasil menggali sampai dalam dan lebar dan mengalirlah air itu dengan derasnya.
Tetapi karena pekerjaan mbah jongke belum juga selesai maka air tidak dapat mengalir kebawah. Mbah jongke mrasa malu atas keberhasilan mbah nursigit yang tadinya tidak dianggap bekerja.maka mbah jongke mengeluarkan tenaga batinnya untuk menyimpangkan air yang mengalir pada galian yang sedang dikerjakan mbah jongke.
Selanjutnya karena air ini lama tidak sampai , maka marahlah Tumengung Suradilaga dan mengutus patih sampun untuk mengeceknya. Mbah nursigit merasa malu karena pekerjaannya telah selesai namun ternyata belum juga sampai airnya.. Selanjutnya mbah nursigit mengeluarkan kesaktiannaya, dengan memotong-motong oman dan dimasukkan kesaluran yang telah ada, dan mengalirlah air tersebut sampai tanah yang belum digali sampai pada daerah yang di tuju sehingga pembuatan saluran air selesai, namun mbah ongke mersa malu atas perbuatan mbah nursigit itu, karena mersa haknya di serobot dan marah pada mbah nursigit, Setelah pembuatan saluran selesai maka patih sampun mengadakan pesta di kademangan kalmias.
Didalam Pesta diadakan pertandingan ujungan, antara kedua pemimpin saling adu kesaktian, menurut ceritanya dalam adu kesaktian mbah jongke kalah. Kemudian sambil pulang kerumah mbah jongke mengeluarkan kata-kata yang berupa ancaman yang bunyinya ( “AWAS ANAK TURUNANMU”MBAH NURSIGIT ) kalau bermalam di kalmias pulangnya akan di gotong. Kemudian mbah nursigit mengatakan sebagai balasan , demikian pula anak turunmu, kalau bermalam dimejagong maka pulangnya akan digotong.

Akhir cerita sebelum mbah nursigit wafat beliau sempat berpesan

1. Tempat peristirahatanku berrilah nama MANGGIS DALEMAN
2. DIsekitar peristirahatanku janganlah untuk menanggap wayang
3. Anak cucuku tidak boleh bermalam di kalimas apa lagi mencari jodoh

Adapun makam mbah nursigit terdapat juga dipakuburan desa Mejagong
Dan sampai sekarang setiap tanggal 1 Muharram di adakan upacara selamatan di petilasan manggis daleman.
Demikian asal –usul terjadinya manggis daleman desa Mejagong