SEJARAH DESA

SEJARAH DESA MEJAGONG.

DESA MEJAGONG adalah salah satu desa dari 18 ( delapan belas) Desa di Kecamatan Randudongkal Kabupaten Pemalang, tepatnya di Jalan Provinsi, Jalan Raya Raya Randudongkal – Moga KM – 3 atau berjarak 3 KM dari Pusat Pemerintahan Kecamatan Randudongkal.

Desa Mejagong terdiri dari 5 Dusun yang terdiri dari

  1. Dusun I (Satu) ,
  2. Dusun II (Dua)
  3. Dusun III (Tiga)
  4. Dusun IV (Empat) dan
  5. Dusun V (Lima)

Luas Desa Mejagong adalah 145,972 Ha dengan batas desa sebagai berikut :

  • – Sebelah Utara          : Desa Gembyang Kecamatan Randudongkal
  • – Sebelah Selatan       : Sungai Comal
  • – Sebelah Barat          : Desa Kecepit Kecamatan Randudongkal
  • – Sebelah Timur         : Desa Banjaranyar Kecamatan Randudongkal

Berdasarkan sejarahnya Desa Mejagong secara administratif masuk ke wilayah Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang yaitu sekitar tahun 1883 yaitu ketika Kabupaten Pemalang dipimpin oleh seorang Tumenggung bernama Suradilaga.

Sejak saat itu Desa Mejagong secara formal dipimpin oleh seorang Lurah/Bekel sebagai Kepala Pemerintahan yang bernama Mbah Dongkol yang memerintah dari tahun 1883 sampai dengan 1898.

Dalam perkembanganya sebagai sebuah Desa, Desa Mejagong telah mengalami perubahan kepemimpinan dari zaman dahulu sampai dengan sekarang  dengan urut-urutan Lurah/Bekel yang memimpin Desa Mejagong adalah sebagai berikut :

  1. Mbah Dongkol memerintah tahun 1883-1898
  2. Mbah Sarkam memerintah tahun 1898-1906
  3. Mbah Maryan memerintah tahun 1906-1914
  4. Mbah Arbi memerintah tahun 1914-1922
  5. Mbah Syariah memerintah tahun 1922-1938
  6. Mbah Sumadi memerintah tahun 1938-1939
  7. Bapak Kadar memerintah tahun 1939-1986
  8. Bapak Dail memerintah tahun 1986-2002
  9. Bapak HM. Suparno, SE memerintah 2002-2012
  10. Bapak Darmo memerintah 2012-2018

Pada Zaman penjajahan Belanda karena Desa Mejagong dilalui aliran Sungai Comal dan sering terjadi banjir bandang pada waktu hujan lebat, maka Pemerintah Penjajah Belanda membangun Bendungan untuk mengatasi banjir bandang tersebut. Namun pada tahun 1972 Bendungan tersebut jebol dan tidak mampu menahan luapan air yang sangat besar karena pada saat itu adalah sedang musim hujan yang sangat ekstrem.

Akibat peristiwa tersebut Dusun IV dan Dusun V terendam air, bahkan sampai jalan desa diatas pintu tersier yang sekarang terbelah. Tetapi periwtiwa tersebut tidak memakan korban jiwa.Hanya saja mengakibatkan seluruh areal persawahan yang terletak di wilayah Dusun IV ikut terendam air bah sehingga para petani tidak bisa menanami lahan persawahan mereka selama kurang lebih 3 tahun.

Untuk mengatasi peristiwa tersebut Pemerintah dengan tanggap segera membangun kembali bendungan dan sekaligus membangun pintu air sebagai pembagi arus air sehingga terpecah dan tidak terlalu deras aliran airnya, sungai buatan tersebut dinamakan sungai SUSUKAN. Sungai tersebut sekaligus sebagai pembangkit mesin atau turbin yang ada di Pabrik Gula yang berada di desa Sumber Harjo Kecamatan Pemalang.

Disamping itu juga karena berlimpahnya sumber daya alam yang berupa air tersebut maka pada tahun 1983 Perusahaan Listrik Negara    ( PLN ) juga mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro ( PLTM ) dimana aliran air dari sungai SUSUKAN tersebut yang digunakan sebagai penggerak Turbin/Kincir yang dapat menghasilkan arus listrik.

Tetapi karena sesuatu hal Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro ( PLTM ) tersebut tidak dioperasikan lagi.Baru kemarin sekitar tahun 2009 PLN memperbaiki alat – alat dan semua fasilitas yang diperlukan untuk menjalankan Pembangkit yang telah ada bahkan telah diresmikan kembali penggunaannya oleh Dirut PLN Jawa Tengah, tapi sampai sekarang pemanfaatan kembali Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro   ( PLTM ) tersebut kelihatannya belum optimal